Posts

2017. What a year. Part 2

Tanggal 05 April 2017, saya tiba di Sydney. Sangat-sangat excited , mengingat ini pertama kalinya saya tinggal di luar negeri. Bersyukur sekali lagi, saya memiliki saudara yang membuka pintu rumahnya untuk saya tinggali, sehingga semuanya jauh lebih mudah. Beberapa hari berlalu, saya mulai berkeliling kota Sydney sendirian sekaligus mengurus berbagai dokumen yang diperlukan (Telephone number, Bank account, Tax File Number, Superannuation, dan lain-lain). Waktu-waktu itu sungguh menyenangkan, jalan-jalan menelusuri kota yang memang begitu indah. Setelah dokumen-dokumen itu selesai diurus, saya akhirnya mulai berkeliling untuk drop resume dan mencari-cari pekerjaan via online . Setelah hampir seminggu berlalu, perasaan semula yang excited mulai menjadi kuatir. Bagaimana tidak? Persediaan uang mulai menipis, belum ada juga kabar mengenai pekerjaan. Terlebih lagi, saya menyadari satu hal yang semakin menambah kegelisahan. Semula saya mengira mencari pekerjaan di sini aka...

2017. What a year. Part 1

Tidak terasa 2 minggu sudah berlalu sejak memasuki tahun 2018. Dalam khotbah awal tahun, Pak Agus mengajak semua pendengar untuk merenungkan 3 hal. Pertama, apakah di tahun 2017 kita semakin mengenal Tuhan atau tidak? Kedua, apakah makin mematikan dosa atau tidak? Ketiga, apakah makin rela untuk taat kehendak Tuhan, menyangkal diri, menginjili, dan berkorban? Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, saya bisa dengan mudah menjawab pertanyaan2 ini. Hal-hal yang Tuhan kerjakan dalam hidup saya di tahun 2017 terlalu banyak. Anugerahnya jauh begitu melimpah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, mungkin terbanyak selama saya hidup. Selama di Cairns, saya punya waktu yang banyak, sehingga saya bisa lebih banyak merenung. Saya mencoba untuk kembali mengingat apa saja hal-hal yang Tuhan kerjakan dalam hidup saya selama tahun 2017. Di akhir tahun 2016, saya menyelesaikan studi S2 saya di Post Graduate Program LSPR-Jakarta. Sembari menunggu waktu wisuda, saya mencoba memikirkan hal yang sangat pent...

Ask and have

"You want what you don't have, so you scheme and kill to get it. You are jealous of what others have, but you can't get it, so you fight and wage war to take it away from them. Yet you don't have what you want because you don't ask God for it." - James 4: 2-3 Sama seperti artikel sebelumnya, saya masih mengambil bahan dari buku Praying Successfully yang ditulis oleh Spurgeon. Sebelum pergi ke Cairns, saya memilah-milih buku apa yang akan saya bawa. Salah satu pilihan saya jatuh ke buku ini, karena cover dan kata-kata pembukanya sangat menantang. Spurgeon menjamin bahwa seseorang yang meminta kepada Tuhan pasti akan mendapatkan apa yang diminta. Benarkah hal ini? Hari ini tanggal 3 Januari 2018, saya secara resmi sudah mulai bekerja. Sebetulnya restoran tempat saya bekerja seharusnya sudah buka dari beberapa minggu yang lalu, tetapi karena satu dan lain hal, akhirnya baru buka hari ini. Awal-awalnya saya cukup tenang karena menurut perhitungan saya, masih...

It is easy to trust when you can trust yourself

Dalam satu bulan ini, Tuhan mengajarkan untuk terus bersandar kepada Dia. Beberapa waktu yang lalu saya kembali merenungkan, mengapa saya berani untuk memilih work and holiday di Australia. Tentu saya tahu dengan jelas itu pimpinan Tuhan, oleh karenanya saya berani untuk menjalankannya. Setelah satu bulan lebih di Cairns, saya akhirnya menemukan titik terang apakah Tuhan memang mengkonfirmasi saya ke sini atau tidak. Saya telah menceritakan di post sebelumnya mengenai 'tanda' yang saya minta dari Tuhan, sebab telah banyak usaha dijalankan, tetapi belum ada hasil. Tidak lama setelah itu, saya mendapatkan telpon dan akhirnya diterima untuk bekerja. Meskipun belum bekerja secara resmi, tetapi secara aktif sudah mulai bekerja sedikit-sedikit. Kemungkinan nanti tanggal 28 Desember baru akan secara resmi bekerja. Saya pergi ke Cairns sebagai upaya memenuhi syarat apply second year visa. Untuk memperolehnya, saya diharuskan untuk bekerja dan mendapatkan payslip paling sedikit 13 ...

Bersandar kepada Tuhan

Hari ini rabu tanggal 06 Desember 2017, tepat 3 minggu sejak saya pertama tiba di kota Cairns. Hari demi hari berlalu, dan saya terus berusaha untuk mencari pekerjaan sebagai syarat untuk apply visa second year. Seiring dengan berjalannya waktu, sesekali terpikir apakah benar Tuhan memang menyuruh saya ke kota ini atau tidak. Sejak beberapa hari di Cairns, saya sudah memiliki feeling yang tidak enak. Dugaan bahwa Cairns akan sangat ramai, dan banyak lowongan pekerjaan ternyata salah total. Terlebih lagi, Cairns adalah salah satu kota tujuan yang paling populer untuk para backpacker yang memiliki visa work and holiday, sehingga saingan dalam mencari pekerjaan sangat sulit, terutama karena sebagian besar dari mereka sudah memiliki pengalaman di bidang Hospitality . Sudah banyak tempat saya kunjungi, baik untuk drop resume maupun apply secara online, bahkan lebih dari satu kali. Ada beberapa kali interview pekerjaan, tetapi hasilnya nihil. Bahkan belum lama ini ada trial kerja di caf...

Absolute surrender to Him

12 hari telah berlalu sejak pertama kali saya menginjakkan kaki di kota Cairns, Queensland, Australia. Pindah ke suatu kota yang asing, mencari tempat tinggal, pekerjaan yang baru, bukan perihal yang mudah. Seseorang bisa saja terlihat begitu rohani dari luar, tetapi waktu dan momen saat sendirian lah yang menyingkapkan apakah seseorang itu murni atau tidak. Dalam beberapa minggu sebelum keberangkatan, saya yakin dan tau bahwa Tuhan memang suruh saya untuk pergi ke Cairns. Sebagai kota yang ramai dikunjungi turis, Cairns membuka banyak sekali peluang untuk bekerja di bidang Hospitality / Tourism , sesuatu yang menjadi syarat untuk apply visa second year. Jika kita melihat dari segitu waktu, bulan November - Januari seharusnya sangat mendukung. Bulan-bulan ini biasanya akan banyak turis yang datang dan banyak lowongan pekerjaan, baik di Cafe, Restaurant, atau Hotel. Sesampainya di Cairns, saya pergi ke daerah City, jalan-jalan melihat lokasi sekitar, dan pergi keliling untuk drop in...

Puritan Theology - a Pilgrim Mentality

Jumlah pendeta, kaum pekerja Kristen, dan kaum muda yang takut akan Tuhan diseluruh dunia terus bertambah. Mereka juga memikirkan bagaimana menerapkan pengajaran yang berdasarkan Alkitab ke dalam kehidupan sehari-hari. Mereka juga percaya bahwa pembelajaran dari Alkitab bukan hanya untuk sekedar pengetahuan saja, melainkan sesuatu yang praktis dan dihidupi dalam kehidupan sehari-hari. Di saat yang bersamaan, bertambah juga orang-orang yang mempelajari Reformed Theology . Mereka menyetujui 5 pengajaran Calvinisme yang biasa disingkat dengan istilah TULIP. Tetapi masalahnya, meskipun telah mempelajari hal tersebut, gaya hidupnya masih sangat seperti orang dunia. Kaum Puritan mungkin adalah satu-satunya kaum Kristen di dalam sejarah gereja yang mampu untuk menyeimbangkan keduanya, teologi Reformed yang ketat dan gaya hidup yang rohani. Seluruh teologi dan gaya hidup dari kaum Puritan bisa disebut sebagai pilgrim mentality . Mereka menyadari bahwa mereka adalah seorang musafir yang ber...